Posted by : Mohd Asri Hj Zainal Feb 26, 2011



“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah….” (Q.S. Ali-‘Imran : 110)

Saudaraku, mari sejenak kita perhatikan mereka, tentang sekumpulan orang yang kemudian disebut umat terbaik oleh Allah. Mereka sangat mencintai Allah dan Allahpun mencintai mereka. Mereka menyeru kepada Allah, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar kapanpun dan dimanapun mereka berada. Mereka sangat khawatir atas laknat Allah atas mereka. Kekhawatiran atas konsekuensi keyakinan mereka terhadap firman Allah SWT.

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-kitab, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat.” (Q.S. Al-Baqoroh : 159)

Saudaraku, mereka mengamalkan ilmu atas diri mereka. Khawatir pula mereka dibenci oleh Allah atas seruan yang mereka lakukan. Sekali lagi, Kekhawatiran atas konsekuensi keyakinan mereka pula terhadap firman Allah SWT.

“Hai, orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (Q.S. Ash-Shaaff : 2-3)

Saudaraku mereka beriman kepada Allah dan merasakan kelezatannya. Gemetar hatinya ketika disebut nama Allah. Bertambah imannya ketika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka. Mereka senantiasa bertawakal hanya kepada Allah. Mereka dirikan shalat dan berada dalam naungannya dimanapun dan dalam kondisi apapun. Mereka rihdo menafkahkan sebagian rizki yang mereka dapatkan dari Allah. Di sisi Allah, mereka mendapatkan beberapa derajat yang tinggi. Mereka memperoleh ampunan lagi tambahan nikmat yang mulia dari Rabbnya. Mereka ridho Allah menjadi tuhan mereka atas konsekuensi keimanannya. Mereka ridho atas perintah dan larangan apapun dari Rabbnya. Atas konsekuensi keimanan itu pula, masing-masing dari mereka mencintai sesamanya karena Allah, ikhlas karena-Nya. Sehingga tak ada kekurangan di antara mereka dalam kehidupannya. Sehingga senang hati setiap orang ketika dekat dengan mereka. Atas konsukuensi keimanan itu pula, mereka benci ketika mereka masuk dalam kekafiran sebagaimana mereka benci ketika diri mereka masuk ke dalam api neraka.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.” (Q.S. Al-Anfal : 2-4)

Tiga hal yang apabila seseorang dapat merealisasikannya, maka ia akan merasakan lezatnya keimanan, yaitu; 1. Menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai sesuatu yang paling dicintainya dari selainnya, 2. Mencintai seseorang, tiada lain mencintainya kecuali hanya karena Allah, 3. Benci apabila dirinya terjerumus kembali kepada kekafiran seperti kebenciannya apabila dijerumuskan ke dalam api.”(H.R Bukhari dan Muslim).

Saudaraku, Semoga kita didekatkan dengan sifat-sifat mereka dan bisa menjadi bagian dari mereka. Amiin. Wallahu’alam


Sumber: Mereka Umat Terbaik

- Copyright © Selalu Berbicara -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -